SENDAL JEPIT HADIAH LEBARAN
SENDAL
JEPIT HADIAH LEBARAN
oleh
abang Dhio’
Tak
terasa ramadhan tahun ini sebentar lagi akan meninggalkan kita, atau sekiranya
kita yang meninggalkan ramadhan tanpa berbekal iman dan takwa selama sebulan
penuh. Alhasil malah yang berbekal rupiah yang terlihat memenuhi tempat jual
beli untuk kebutuhan lebaran. Pasar tradisional, pasar modern, mall-mall dan
tempat jualan oleh-oleh khas daerah penuh dengan hiruk pikuk manusia-manusia. Tidak
bisa dipungkiri bahwa hal semacam itu telah menjadi sebuah budaya yang menjamur
dikalangan masyarakat era global saat ini, tepatnya menjelang hari raya Idul
Fitri.
Akupun
memikirkan hal yang sama, berbelanja untuk keperluan lebaran tahun ini. Mungkin
untuk keperluan pribadi seperti ramadhan-ramadhan sebelumnya. Baju baru, celana
baru, sendal baru, dan bahkan cukur baru dan kepribadian baru. Hehe
Akun
media sosialku pun dipenuhi history
tentang lebaran sebentar lagi. Mudik dan THR (Tunjangan Hari Raya). Ya,
lagi-lagi menjadi sebuah tradisi up to
date for Ramadhan.
Alih-alih
kuraih telepon genggamku, kubuka salah satu aplikasi social mediaku, ku scroll
dan kucari sebuah nama kontak yang terlintas difikiranku. Tujuanku tidak lain
untuk memburu THR. “nah, ini dia,” pikirku. Sebuah nama kontak yang melukiskan
senyum sumringah dibibirku, Daeng Icca.
Begitu panggilanku untuk satu-satunya kakak laki-laki dalam keluargaku.
Dengan
mengucapkan Bismillah kumulai
mengetik huruf satu persatu tak lupa masih dengan wajah sumringah.
“Assalamualaikum daeng”, kukirim sebagai awal perincanganku dan yeaah
terkirim. Selang beberapa menit, nada dering pesanku berbunyi.
“Wa’alaikumussalam”, sapanya dari tulisan berwarna putih pada akun media
sosialku
Sengaja
aku tidak menelponnya, aku hanya takut akan mengganggu aktifitasnya, setidaknya
dengan mengirim pesan, dia bisa membaca dan membalasnya diwaktu luang. Tanpa basa-basi
kulanjutkan percakapanku dengannya.
“Bagaimana kabar ta’ daeng?”
“Alhamdulillah baik dek, kapan mudik?”
tanyanya
Sebenarnya
aku malas basa-basi seperti ini, menanyakan hal-hal yang bisa dibilang kurang
penting, tapi demi sebuah tradisi
ramadhan, aku ikut arus saja.
“InsyaAllah secepatnya daeng, tapi
belum tahu kapan” jawabku seadanya
“Oh iya, hati-hati di jalan kalo
pulang!”
Sebuah
pesan yang terkesan tegas dari seorang keluarga. Bentuk perhatian yang pun juga
terkesan tulus dari seorang kakak.
“Siap daeng!” balasan
pesannya urung kukirim. Bukan karena malas, tepatnya aku mau menyusun kata-kata
yang berfokus pada tujuanku mengirim pesan padanya. Semenit berlalu, belum juga
kutemukan kata yang tepat untuk kukirim. Kubiarkan layar hp ku meredup dan mati
sambil sesekali kumainkan kuku tanganku yang sudah mulai memanjang. Tiba-tiba
dering panggilan membuyarkan lamunanku, Daeng
Icca memanggil. Aku bangun dari pembaringan, kuperbaiki posisi dudukku dan,
“Halo assalamu’alaikum daeng,” ucapku
“Wa’alaikumussalam,” suaranya
terdengar jelas dari balik speaker hp
ku
“Maaf dek, tahun ini tidak ada
THR, soalnya sementara biaya renovasi rumah”, lanjutnya
Sontak
aku kaget, seolah-olah dia tahu apa yang kupikirkan dan apa tujuanku mengirim
pesan padanya
“hehe, iyye daeng, tidak apa-apa,”
balasku cengegesan
“pake yang dulu saja,” lanjutnya
kemudian
“Iyye daeng,” jawabku
polos
“Tapi tadi ummi ke pasar, dia beli sendal katanya untuk kamu
dipake lebaran”
Sendal?
untuk aku? dari ummi? Naluriku sebagai seorang anak bungsu kembali memuncak,
ada sekelumit air mengalir dari mataku setiap mendengar kata ummi. Bukan soal
sendal yang dibelikan oleh beliau, tapi jauh daripada itu, sebuah kasih sayang.
Kubasuh
air mataku, kucoba tenangkan diri dan kembali menyimak suara dari balik telepon
genggamku
“Cuma sendal jepit yang ummi
beli, katanya juga sebagai hadiah ulang tahun yang dijanjikannya dulu”
Aku
masih terdiam, hanya telingaku yang kupasang baik-baik mendengarkan setiap kata
yang diucapkan kakakku.
Kata-katanya
membuatku teringat tepat di tanggal sehari setelah tanggal kelahiranku ditahun
ini, ummi memberikan ucapan selamat ulang tahun dan beliau janji akan
memberikan hadiah kalau ada rejeki. Aku sengaja melupakan janjinya karena aku
memang tidak pernah mengharapkan itu. Tapi ternyata ummi memenuhi janjinya,
sungguh sebuah hal diluar dugaanku. Toh, setiap menjelang tanggal lahirku, aku
tidak pernah menerima kado dari siapapun juga, termasuk dari keluargaku. Dan kali
ini berbeda, meski telah berlalu beberapa bulan.
Aku
tidak menyadari panggilan telepon dari kakakku tiba-tiba terputus, aku sibuk
mengajak pikiranku jauh ditanggal lahirku. Mungkin juga karena jaringan
terputus. Ah, aku tidak peduli lagi dengan itu.
Aku
meletakkan hp ku dan kembali mengajak pikiranku membayangkan hadiah ulang tahun
dari ummi, sebuah sendal jepit. Besar keinginan untuk cepat-cepat mudik dan
menerima kado ulang tahun dari sosok yang paling mulia bagiku, ingin rasanya
lebaran dipercepat esok lusa, biar kusombongkan diriku berjalan kaki dihari
raya Idul Fitri dengan sebuah sendal jepit mewarnai kakiku, sebuah sendal jepit
hadiah lebaran dari ummi.
Dalam
diam, sendiri, terpejam, kubayangkan sosok beliau yang sejatinya kupanggil ummi
dan sendal jepit sebagai hadiah darinya. Pelan-pelan-pelan kugariskan senyum
seraya berbisik
You are the best for me, mom. I love
you...
Menjelang sahur, 24 Ramadhan 1439 H



Luar biasa bang.. kayak ada manis manisnya... Barakallah
BalasHapus