untuk perempuan yang sudah mulai beruban


Untuk perempuan yang sudah mulai beruban,

Sepertinya tulisan ini agak sedikit kontemplatif, aku ingin merenungi banyak hal tentangmu terutama tentang aku yang telah dua puluh tujuh tahun memilikimu.

Tentang perjalanan yang telah membawaku ke tahap ini. Adalah sebuah syukur kepada semesta bahwa aku telah diberikan kesempatan bernapas, sembilan bulan hidup di dunia antara menyatu dalam tubuh seorang malaikat yang sederhananya aku panggil Ummi.

Kemudian keluar dari rahimmu, dengan segala kesakitan yang sungguh kaurasakan saat melahirkanku, barangkali naluriku pun peka, hingga aku ikut menangis karena merasakan getir napasmu yang berubah menjadi sebuah kebahagiaan. Aku lahir.

Sepertinya masa kecil adalah masa-masa aku menjalani sebuah gladi resik kehidupan. Belajar telungkup-merangkak-jatuh-berdiri-jatuh-takut berdiri-kamu tuntun lagi untuk berjalan-hingga aku berani berjalan sendiri. Semacam sebuah simulasi bahwa dalam hidup ini, jatuh adalah sebuah keniscayaan.

Kemudian di sekolah aku dijelaskan tentang hukum gravitasi yang penemuannya menurutku cukup unik, bahwa Newton (seorang ahli fisika) yang konon pada waktu itu melihat apel jatuh dari pohon. Dari sana kemudian dia menemukan hukum gravitasi. Tapi entah Newton menyadari ini atau tidak, ketika apel itu jatuh sejatinya pikirannya sedang terbang entah ke mana. Sepanjang itu juga aku selalu mengalami jatuh. Waktu kecil, ketika aku belajar naik sepeda, jatuh. Ketika sekolah dan aku bermain lari-larian bersama temanku, jatuh. Waktu kuliah, saat mengendarai motor hujan-hujan dari kampus, tempat kerja ke Kosan, jatuh. Pengalaman jatuhku cukup banyak, bekas lukaku juga cukup banyak. Hingga lama kelamaan jatuh menjadi perkara biasa untuk dihadapi.

Tapi ada hal unik, Ummi. Saat dewasa jatuh bukan lagi perkara tubuh tapi juga perkara pikiran, perkara mental. Ummi pasti tahu lebih banyak tentang itu. Hanya saja aku selalu ingat Ummi dan kata-kata Ummi ketika pertama kali aku jatuh. Kupikir itu adalah alasan yang menguatkanku untuk berdiri.

Ummi, aku ini tetap menjadi anak kecil yang manja dihadapanmu. Masih menjadi anak kecil yang tidak sanggup berbohong denganmu, semeyakinkan apapun aku berbohong kamu pasti tahu -walau tentu saja kamu pura-pura percaya padaku-. Aku hanya ingin mengucapkan sebuah ketulusan, terima kasih banyak atas dua puluh tujuh tahun ini tabah sekali merawatku dengan segala keras kepala dan nakalnya aku, sekarang sudah waktunya aku yang ganti membahagiakanmu.

Walaupun hidup menjatuhkanku, walaupun segala tujuanku terasa sulit, berkat doa dan kasih sayangmu segalanya menjadi mungkin dan selalu ada harapan.
Mencintai dan membahagiakanmu itu tidak pernah menemukan kata selesai, Ummi. Walaupun pada akhirnya tulisan ini mencapai bagian penutup, maka biarkan kurangkum tulisan ini menjadi sebuah kalimat. Jika ada kehidupan lain setelah ini, ijinkan aku untuk tetap menjadi anakmu, aku menyayangimu.

Oh iya, kata-katamu yang menyemangati waktu aku jatuh pertama kali, akan selalu aku ingat: jangan takut, ummi menjagamu dari belakang.


Bikeru, 16 Februari 2018 | 00:05 WITA
Dari anakmu yang sedang belajar bangkit dari jatuh,

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer